NEBENGERS, Fenomena Kreatif Di Era Macet

Kita coba melongok ke Provinsi DKI Jakarta. DKI Jakarta merupakan provinsi raja macet. Meskipun telah dibuka jalur busway, commuter line dan lain sebagainya, tetap saja semua kendaraan penuh, jalanan tetap saja penuh. Di saat gubernur DKI Jakarta akan merealisasikan MRT, ternyata dari kalangan akar rumput muncul sebuah kreativitas yang sangat bermanfaat bagi sesama dan bagi pemerintah. Fenomena ini berjalan lewat jalur internet, khususnya jejaring sosial Twitter. Silakan anda buka http://twitter.com/nebengers. Akan dijumpai kicauan para penghuni twitterland melakukan mention kepada akun nebengers dan akan di retwit oleh sang admin. Isinya tak lain adalah bertujuan untuk memediasi antara orang yang memiliki sisa tempat duduk dalam mobilnya, dan orang yang membutuhkan tumpangan menuju ke suatu tempat.

Cukup sederhana bukan? Tapi tentu pencetus ide ini amatlah jeli mengamati situasi. Konon cerita ini bermula dari orang pencari joki di kawasan 3in1. CMIIW. Selanjutnya berlanjut hingga luar kota juga, seperti Bandung dan Bogor.Nebengers juga memiliki portal webnya di http://nebengers.com. Dalam operasionalnya, para nebengers akan mengirimkan kicauan twitter dengan format-format:

Rute | Hari & Jam | via | seat | Term&Condition | #CariTebengan/#BeriTebengan/ #ShareSesuatu | Kota

Pencari tebengan akan menggunakan hashtag #caritebengan, dan pembawa kendaraan akan menggunakan hashtag #beritebengan. Kadang jika si user twitter tersebut memiliki sesuatu buat dibagikan, mereka akan membuka hasthag #sharesesuatu, misal #shareCemilan. Jenis kendaran juga bisa disebutkan. Tidak harus kendaraan roda empat, kadang vespa pun menawarkan diri untuk ditebengi. Route yang dipilih juga disebutkan di sana, misal : KampungRambutan – Ciawi – Puncak – Bandung | 21April2013| puncak|3seat|#beritebengan|#sharepundak.

Solusi nebengers ini, jika dihitung-hitung, cukup membantu untuk mengurangi kemacetan di jalan raya Jakarta. Dengan satu mobil bersama, maka setidaknya banyak para pengguna jalan yang daripada lelah nyetir sendiri, memilih menggunakan kebersamaan nebengers. Media nebengers ini ternyata tidak hanya berhasil memediasi antara pencari tumpangan dan pemberi tumpangan. Dalam kegiatannya mereka juga melakukan kopi darat seperti saling bertemu dalam satu lapangan futsal dan lain sebagainya.

nebengers

Mediasi seperti ini sebenarnya juga diterapkan di kalangan sopir-sopir truk terutama di sekitar pelabuhan Merak, Banten. Mediasi ini tidak bersifat global, namun terdapat satu bandar yang bertindak sebagai mediator. Misal sebuah truk dari Kulonprogo akan membawa ketela ke Sumatera Barat, maka sang sopir telah lebih dulu melakukan komunikasi dengan sang bandar, yang intinya: adakah sopir truk yang bisa melanjutkan pekerjaan ini sampai ke Sumatera Barat? Jika iya, maka muatan ketela akan dipindah di Merak, dan sang sopir Kulonprogo tersebut juga akan mendapat muatan angkutan balik  ke Kulonprogo agar tidak merugi solar. Mediasi dilakukan hanya dengan telepon seluler.

Nah jika di Jakarta telah ada solusi kreatif seperti itu, maka bagaimana dengan Jogja? Jakarta, dengan segala kemacetannya telah membuka ruang kreatif. Maka adakah kelak solusi kreatif transportasi Jogja yang angkutan umumnya tidak pernah sampai malam hari? Mari kita tunggu.

 

 

bms

 

Leave a Reply